“Beban Garis Akhir”
Oleh:
Aiko Kayyisah
Kudengar
setiap hentakan kaki itu setiap kali mereka melangkah menuju tempat yang kadang
membuatnya senang namun juga membuatnya bimbang. Aku selalu menemaninya,
mendengar keluh kesahnya. Namun, beberapa hari ini aku tak lagi mendengar derap
langkah mereka. Mereka tak lagi menghampiriku. Dimana mereka?
Mereka
adalah Nawa dan Bada mahasiswa tingkat akhir di sebuah Universitas. Hari demi
hari telah berlalu, langkah kaki itu semakin menjauh dan menghilang. Hingga
akhirnya derap langkah itu kembali terdengar, ya, suara itu tak asing bagiku.
Itu suara Nawa namun, kali ini ada suara yang aneh tak pernah kudengar dari
Nawa. Suara apa itu?
Tiba-tiba
suara derap langkah semakin mendekatiku. Ada seseorang yang datang sepertinya
dia menghampiri Nawa.
“Nawa,
kenapa kamu menangis?” sembari kurasakan dia duduk di samping Nawa. Oh,
sekarang aku baru tahu itu adalah sebuah tangisan. Apa arti sebuah tangisan?
Entahlah, aku hanyalah saksi bisu yang hanya dapat mendengar tanpa
mendefinisikan.
“Lee,
aku tak tahu harus bagaimana lagi. Laporanku ditolak.” Suara yang disebut
tangis itu semakin memecah keheninganku. Keluh kesah dan nasehat-nasehat kini
mengisi kehampaanku. Aku hanya dapat mendengar balas ucap dari Nawa dan Lee.
Hingga akhirnya banyak suara derap langkah kaki menghampiriku, Nawa dan Lee.
***
Suara
derap langkah yang masih kunantikan hingga kini. Bada yang tak tahu hingga kini
tak pernah lagi kudengar senda guraunya, keluh kesahnya. Dia tak pernah lagi
menghampiriku. Dimana dia? Nawa yang datang dengan keluh kesah dan mengenalkanku
tentang suara tangis yang mungkin suara yang menjadi simbol dikalangan manusia
yakni simbol sebuah kesedihan
Aku
sendiri disini, tanpa suara derap langkah kaki, suara keluh kesah, senda gurau,
nasehat-nasehat. Aku merindukan semua suara itu.
Tak
lama kemudian, tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Suara derap langkah siapa
gerangan suara itu semakin mendekat. Itu Bada? Kenapa langkah Bada semakin
melemah, apakah beribu masalah menyelimutinya seperti halnya Nawa? Entahlah.
“Bada,
kok baru kelihatan sih? Kemana aja?” Tiba-tiba suara itu terdengar menyapa
Bada.
“lagi
sibuk nih,” balas Bada singkat. Bada berusaha mengalihkan pertanyaan temannya
itu dengan sebuah candaan tapi aku dapat menangkap nada bicara Bada yang
menyimpan banyak beban masalah.
***
Jika
aku dapat berteriak akan kukatakan “semangat! Buat kalian” Namun, itu tak
mungkin. Aku sendiri tak bisa dan tak
tahu Apa sih sebenarnya tugas akhir itu? Ada apa dengan mahasiswa tingkat
akhir? Apa hubungan mahasiswa tingkat akhir dan tugas akhir? Aku hanya tahu bahwa
yang akhir itu adalah sebuah Finish tapi mengapa mereka dilema dengan sebuah
garis akhir penyelesaian itu? Entahlah.
Hingga
saat ini, aku hanya dapat menyimpulkan sebuah tugas akhir membuat mereka
berubah, apakah tugas akhir sebuah beban berat? Entahlah aku tak bisa
merasakannya. Aku hanyalah sebuah ruang yang menjadi saksi bisu keluh kesah dan
kegalauan serta arti sebuah tangisan seorang mahasiswa tingkat akhir.
SEKIAN….
olive... ?!
BalasHapuskakak mau curhat.. ^_^
curhat tentang apa,kak?
Hapusiya, silahkan saya sangat senang akan mendengarkannya kalau sya bisa memberi solusi I. Allah saya bantu mengatasi:)
Another winter day has come
HapusAnd gone away
though the season has gone and changed, but the memories will last forever all time.:)
Hapus