Minggu, 18 Januari 2015

Surat Aiko Kayyisah


Buat kawan-kawanku anak imoet 013…
Assalamu’alaikum…
Kawan-kawanku, aku tak akan selalu berada di sisimu selamanya. Namun, hati ini telah terpaut olehmu. Bagiku kalian semua bagai matahari dalam hidupku yang selalu menyinari kegelapan dalam diri ini. Jika aku di izinkan mengatakan sesuatu aku akan mengatakan kalianlah pelukis senyumku. Meski terkadang perselisihan itu terjadi, hingga kita memilih saling berdiam diri. Andai kau tahu saat itulah aku merasa kehilangan semua.  Semangat, canda, senyum, yang ada hanyalah hati yang berbalut luka dan kesunyian. Tak lagi terdengar merdunya burung berkicau, tak lagi terdengar air yang mengalir yang menenangkan jiwa, yang ada hanyalah hembusan angin sunyi yang menambah sunyinya hati ini. Airmata terus berderai di pipi hidup seolah tak ada artinya saat kalian mengasingkanku, saat kalian tak mempedulikanku lagi.
Kawan, jika kelak aku tiada berjanjilah tetap mengingatku dengan do’amu agar kelak di masa mendatang kita akan tetap merasa bersama meski jarak tak lagi terjangkau, meski bersama dalam ruang yang berbeda. Aku akan tetap berharap kita akan tetap bersama dalam kebahagiaan yang hakiki.
Kawan, kehilangan bukanlah sesuatu yang mudah bagiku. Begitupun kehilangan kalian, keluarga kecil yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Yang melukis tawa dan luka. Yang menjadikan perbedaan menjadi suatu keharmonisan,. Itulah kalian kawan-kawanku sang pelukis senyumku.
Kawan, inilah ungkapan hatiku buat kalian keluarga kecilku (Ayhu Aksa, Intan Airin Arsala, Muhammad Gufran M. Nur, Khaeraty Amhyer, Nadzifa Aulia)

                                                              
Buat senior-seniorku yang baik…
Assalamu’alaikum…
Kakak-kakakku, beribu maaf kuucapkan atas segala tingkah lakuku yang tak pernah berkenan di hati kalian. Yang selalu membuat kalian marah, yang selalu membuat kalian merasa tidak nyaman saat aku di samping kalian. Tapi, ketahuilah semua itu aku lakukan karena aku berusaha bagaimana dapat membuat semua keadaan menjadi senyaman mungkin walau kadang malah tindakanku membuat kaliah geram kepadaku.
Kakak-kakakku, seringkali kutak menghargaimu. Tapi, kalian tetap saja menerimaku walau sering kumenolak tawaranmu namun, kau selalu membantuku. Kau tunjukkan kepadaku, arti persaudaraan yang sesungguhnya, arti tulusnya kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Bahkan kau tak pernah mengeluh saat aku mengulangi kesalahan yang sama yang membuatmu marah. Sesakit apapun hatimu kau tetap tersenyum kepadaku.
Kakak-kakakku, andai nanti waktu memisahkan kita jangan pernah melupakan kenangan yang telah kita rangkai bersama, jika nanti jarak tak lagi berpihak kepada kita  ingatlah selalu hati kita telah menyatu. Aku mengenal kalian hanya sebentar saja namun, aku mampu melihat keluarga yang begitu indah, yah, keluarga kecil yang tak butuh waktu berabad-abad untuk saling percaya, berbagi suka maupun duka.
Kakak-kakakku, terima kasih untuk semuanya. Nasehat yang selalu kau ucapkan, membimbingku dengan penuh kesabaran, menghadapiku dengan senyuman.  (Al-ukth Lee, Tante Mirna, Ayah Risman, Bunda Hije’, Al-akh Bad, Om Fadli, 3 idiot “kak Arman, Kak Hardi, N kak Syarif”, kak Aswar, Alm. Kak Asyad, kak Shabri, Dll).

Sabtu, 17 Januari 2015

Video praktek kebudayaan "Mata kuliah_ Manusia dan Kebudayaan Indonesia.