Buat kawan-kawanku
anak imoet 013…
Assalamu’alaikum…
Kawan-kawanku,
aku tak akan selalu berada di sisimu selamanya. Namun, hati ini telah terpaut
olehmu. Bagiku kalian semua bagai matahari dalam hidupku yang selalu menyinari
kegelapan dalam diri ini. Jika aku di izinkan mengatakan sesuatu aku akan
mengatakan kalianlah pelukis senyumku. Meski terkadang perselisihan itu
terjadi, hingga kita memilih saling berdiam diri. Andai kau tahu saat itulah
aku merasa kehilangan semua. Semangat,
canda, senyum, yang ada hanyalah hati yang berbalut luka dan kesunyian. Tak
lagi terdengar merdunya burung berkicau, tak lagi terdengar air yang mengalir
yang menenangkan jiwa, yang ada hanyalah hembusan angin sunyi yang menambah
sunyinya hati ini. Airmata terus berderai di pipi hidup seolah tak ada artinya
saat kalian mengasingkanku, saat kalian tak mempedulikanku lagi.
Kawan,
jika kelak aku tiada berjanjilah tetap mengingatku dengan do’amu agar kelak di
masa mendatang kita akan tetap merasa bersama meski jarak tak lagi terjangkau,
meski bersama dalam ruang yang berbeda. Aku akan tetap berharap kita akan tetap
bersama dalam kebahagiaan yang hakiki.
Kawan,
kehilangan bukanlah sesuatu yang mudah bagiku. Begitupun kehilangan kalian,
keluarga kecil yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Yang melukis tawa dan
luka. Yang menjadikan perbedaan menjadi suatu keharmonisan,. Itulah kalian
kawan-kawanku sang pelukis senyumku.
Kawan,
inilah ungkapan hatiku buat kalian keluarga kecilku (Ayhu Aksa, Intan Airin
Arsala, Muhammad Gufran M. Nur, Khaeraty Amhyer, Nadzifa Aulia)
Buat
senior-seniorku yang baik…
Assalamu’alaikum…
Kakak-kakakku,
beribu maaf kuucapkan atas segala tingkah lakuku yang tak pernah berkenan di
hati kalian. Yang selalu membuat kalian marah, yang selalu membuat kalian
merasa tidak nyaman saat aku di samping kalian. Tapi, ketahuilah semua itu aku
lakukan karena aku berusaha bagaimana dapat membuat semua keadaan menjadi
senyaman mungkin walau kadang malah tindakanku membuat kaliah geram kepadaku.
Kakak-kakakku,
seringkali kutak menghargaimu. Tapi, kalian tetap saja menerimaku walau sering
kumenolak tawaranmu namun, kau selalu membantuku. Kau tunjukkan kepadaku, arti
persaudaraan yang sesungguhnya, arti tulusnya kasih sayang seorang kakak kepada
adiknya. Bahkan kau tak pernah mengeluh saat aku mengulangi kesalahan yang sama
yang membuatmu marah. Sesakit apapun hatimu kau tetap tersenyum kepadaku.
Kakak-kakakku,
andai nanti waktu memisahkan kita jangan pernah melupakan kenangan yang telah
kita rangkai bersama, jika nanti jarak tak lagi berpihak kepada kita ingatlah selalu hati kita telah menyatu. Aku
mengenal kalian hanya sebentar saja namun, aku mampu melihat keluarga yang
begitu indah, yah, keluarga kecil yang tak butuh waktu berabad-abad untuk
saling percaya, berbagi suka maupun duka.
Kakak-kakakku,
terima kasih untuk semuanya. Nasehat yang selalu kau ucapkan, membimbingku
dengan penuh kesabaran, menghadapiku dengan senyuman. (Al-ukth Lee, Tante Mirna, Ayah Risman, Bunda
Hije’, Al-akh Bad, Om Fadli, 3 idiot “kak Arman, Kak Hardi, N kak Syarif”, kak
Aswar, Alm. Kak Asyad, kak Shabri, Dll).