Jumat, 28 November 2014

Assalamu'alaikum wr. wb.
hai, sahabat disini kubuang segala risau, benci dan semua hal yang membuat hidupku menjadi galau. kutumpahkan segala rasa berbait sajak, puisi sebagai lukisan suka duka yang sempat singgah dalam sanubari hati. karya terindah berbalut makna yang ria menambah ayu wajah kehidupan yang sesungguhnya, mewarnai kehidupan, menerangi kegelapan. yah, disini ku bisa menemukan beribu inspirasi, motivasi, bahkan semangat sejati dalam diri yang hampir rapuh melawan berjuta elegi hidup ini. berjuta mimpi kutuangkan dalam selembar kerja word kuposting dalam blog, kukirim ke media cetak. dan kalian membaca lewat sosial media dan akupun bahagia.
kalian tahu, aku hanyalah seorang penulis pemula yang mencoba menyalurkan bakat melalui hobi. aku seperti sekarang bukan tanpa usaha, aku tak pernah menginginkan sesuatu yang instan dalam hidupku, karena aku mengerti yang instan tak akan bertahan. 

salam pena
Aiko Kayyisah

Kamis, 02 Oktober 2014

Goresan Pena



Kalaupun tidak aku memilikimu setidaknya aku mampu hidup tanpamu
Kalaupun tidak aku bersamamu setidaknya aku telah bisa mengenalmu
Cinta tak selamanya indah, bukan?

Kalaupun tidak kita di satukan setidaknya aku dapat melihatmu dari kejauhan
Kalaupun tidak kau tercipta untukku setidaknya aku telah mampu menghapus rasa itu dalam hatiku
Karena bagiku cinta tak selamanya bersatu

Kalaupun iya kau menjatuhkan pilihan padaku
Itu adalah kesyukuran terbesar bagiku
Kalaupun iya kita bersatu
Itulah anugerah terbesar dalam hidupku
Namun, kalaupun tidak semuanya akan tetap biasa
Karena aku mencintaimu dengan biasa

Kalaupun tidak kau tercipta untukku
Tak akan ada gundah di hatiku semua akan tetap biasa
Se biasa aku mengenalmu dahulu
Ya, tak ada yang berubah karena sejatinya
Aku mencintaimu dengan biasa
Se biasa aku mengenalmu dalam senja.

Selasa, 19 Agustus 2014

Cerpen



Antara cinta dan keegoisan
Oleh: Aiko Kayyisyah

Ini adalah kisah cintaku yang buta. Yang tak tau apa keinginan hatiku. Hati ini selalu merindukan sosok yang telah menyakitiku berulang kali. Awal ku mengenalnya saja dia telah menyakitiku, entah aku bodoh atau aku terlalu polos.
            Aku telah memilih pergi jauh darinya. Namun, saat aku kembali dia kembali hadir dalam hidupku. sakit hati itu masih sangat terbayang dalam benakku. Tapi kenapa? saat dia ingin kembali di hidupku aku membukakan kembali pintu hatiku. Ku sambut dia dengan kasih sayang tulusku. Padahal aku tau dia telah menjalin kisah dengan orang terdekatku yang sangat membuatku terperangah menerima semua kenyataan ini.
Aku kembali menjalin hubungan dengannya tanpa memikirkan orang lain. Aku telah yakin bahwa dia telah berubah, dia tak akan menyakitiku lagi seperti yang pernah dia lakukan kepadaku. Namun, aku salah dia tetap sama seperti yang dulu. Dia kembali menyakitiku, dia meninggalkanku hanya dengan sebuah alasan yang tak dapat ku terima.
“aku tak bisa bersamamu lagi. Aku tak lagi merasa nyaman dengan hubungan ini.” ucapnya saat sepasang mata menatap lekat padanya.
“kau tak bisa seperti ini. ini sangat tidak adil untukku. Telah            kuberikan semuanya tapi ini balasan kamu? Kau ternyata sama             dengan laki-laki di luar sana. Kau laki-laki yang tak memiliki      perasaan.” Cercaku padanya yang terdiam tanpa kata.
“Aku telah meninggalkan orang yang menyayangiku demi kau. Tapi            apa balasan yang kau berikan. Kau dengan mudahnya     meninggalkanku. Aku sungguh tak percaya dengan perlakuanmu kepadaku. Apa salahku? sehingga kau tak henti-hentinya             menghancurkan hatiku.”
“Ana, maafkan aku. Diriku tak mungkin meninggalkannya.”
“kau tak mungkin meninggalnya? Baik, aku mengerti itu, tapi jika   memang kau sayang padanya mengapa kau tega menduakannya? Dan      kenapa pula jika kau tak mencintaiku lagi, kau kembali memberiku      harapan? Kenapa?”
“maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya.” Mencoba membela diri
“cukup, pergilah aku tak ingin melihatmu lagi. Cukup sudah hatiku             kau permainkan.”
“tapi, an.”
“cukup, nik. aku tak mau mendengarkan apa-apa lagi darimu, pergi             sekarang.”
Diapun berlalu meninggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Aku pun berbalik pergi dengan deraian airmata.
***
Saat ini ku putuskan untuk membuang perasaan ini sejauh mungkin dari dalam hatiku. Namun, aku tetap tidak bisa. Semakin aku berusaha melupakannya, bayangannya semakin nyata tergambar jelas di ingatanku.
Beberapa bulan berlalu, dia kembali memohon cintaku. Dengan tegas aku menolaknya, aku tak mau tersakiti untuk ketiga kalinya. Dia pun tak berhenti memohon kepadaku. Hingga hari itu hatiku kembali luluh di buatnya. Aku pun menerimanya kembali dengan niat membalaskan dendam sakit hatiku. Namun, seiring berjalannya waktu aku semakin percaya dia telah berubah. Perasaan dendam itu pun terlupakan dari ingatanku, yang ku tahu aku menyayanginya dari awal kami bersua sampai hari ini. Perasaan itu tetap terbungkus rapi dalam hatiku.
            Hubungan kami semakin membaik, keluargaku pun senang dengannya. Dia sangat sopan, dia sangat sayang kepadaku. Keluarga kami pun semakin dekat dan saling mengenal.
Sampai tiba waktunya, hari yang tidak pernah ku inginkan akhirnya kini datang juga. Dia berpamitan kepada keluargaku untuk melanjutkan studi ke Yogyakarta kota impiannya sejak kecil.
Aku tak sanggup untuk menemuinya, namun aku tak ingin dia pergi begitu saja. Akhirnya ku seka air mataku kemudian aku menemuinya. Dia berucap kepadaku: “ana, aku sayang kamu. Setiap liburan aku akan pulang menemuimu dan keluargamu. Lima tahun ke depan aku akan menjemputmu. Kamu sanggup kan menunggu lima tahun ke depan?”
Dengan berat hati aku menganggukan kepala dan kembali tertunduk. Airmataku pun menetes. Dia pun menyeka airmataku dan kembali berucap: “aku akan tetap setia. Jarak tak akan menjadikan hubungan kita berakhir, kamu belajar yang baik ya? Tetap optimis dan tetap pertahankan prestasimu ya si pipiet kecilku. Elang akan kembali menjemputmu. Senyum dong? Pliss”. Aku pun tersenyum
Dia pun meninggalkanku yang masih dengan perasaan tak menentu. Hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Setiap hari dia selalu menelfonku. Namun, lama kelamaan semuanya berubah dia mulai jarang menghubungiku, aku pun mulai gelisah. Hingga tiba saat itu, aku bosan dengan hubungan ini. Aku pun memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun, dia bersikeras tetap mempertahankan hubungan ini. Aku tetap mengakhiri semuanya. Aku tak pernah lagi menghubunginya.
***
Seiring berjalannya waktu aku mampu melupakannya. Aku memilih sendiri tanpanya. Namun, dia tetap berusaha agar aku berubah fikiran. Namun, aku tetap mengatakan tidak. Dia terus mengharap aku berubah fikiran. Setelah aku memikirkannya aku memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status. Dia pun mengiyakan.
Hingga tiba saatnya dia memberontak keadaan sampai akhirnya dia memutuskan meninggalkanku. Aku pun pasrah dengan keputusannya.
“an, aku tak sanggup lagi dengan hubungan seperti ini, aku lebih baik          pergi.” Ucapnya dengan tegas
“nik, aku tak pernah memaksamu untuk menjalin hubungan denganku         lagi, bukan? Kau terlalu egois. Semua ini mungkin hanyalah alasan          kamu untuk meninggalkanku lagi. Ada yang lain kan selain aku?”
“an, jaga ucapanmu. Aku hanya ingin kejelasan atas hubungan kita.             Kenapa kau semakin hari tak pernah menghargaiku. Aku sadar aku   telah banyak membuatmu sakit hati. Aku kini telah berubah. Mengapa           kau masih saja meragukanku?”
“kau ingin tahu alasanku. Karena aku tak pernah ingin kau kembali dari hidupku. paham? Mulai detik ini juga jangan pernah kembali   dalam hidupku.”
***
Setelah peerdebatan hebat itu, bertahun-tahun dia tak lagi menghubungiku. Tapi, entah kenapa saat ini aku sangat merindukannya. Aku tak tau harus bagaimana kerinduan ini tak mampu jika harus selalu ku pendam. Hatiku sakit, Elang tak rindukah kau pada pipiet kecilmu yang pernah mengisi hatimu? Aku berharap kau merasakan hal yang sama. Biarlah kerinduan ini bersemayam dalam jiwaku dan terpendam dalam hati ini. Hingga nanti ku temukan jawaban atas kerinduan ini. maafkan aku dengan segala keegoisanku hingga membuatmu pergi.

Rabu, 06 Agustus 2014

Puisi



Dentuman Hajat
Oleh: Aiko Kayyisyah

Ingin kutambatkan hati  ini pada-Mu
Seraya menelaah arti menyayangi
Namun, tak jua kumengerti semuanya

Ingin kutambatkan  jiwa ini pada-Mu
Agar sempurna pengabdian ini
Namun, sebuah tabir menghalangi asaku

Izinkan diri ini melukis indahnya cinta-Mu
Yang sejatinya tulus suci untukku
Jika berkenan
Aku ingin kaumembaca prosa pada raut wajahku
agar kautau cinta ini tulus suci untuk-Mu

aku mengenal kasih dengan kalam-Mu
yang menuntun dan memahamkanku
tentang rindu dan cinta
yang kuyakini abadi hingga akhir masa








RINTIHAN HATIKU
Oleh: Aiko Kayyisyah


Ujian bagai badai menghantam hidupku
Dia datang menghampiriku tanpa iba
Memaksaku meneteskan airmata
Hingga hati kecil ini merintih berkata, kapankah semua ini berakhir?

Andai waktu dapat berbalik kebelakang
Aku lebih memilih untuk merubah sejarah peradaban yang telah ada
Agar hidup tak lagi penuh duka dan kecewa
Namun, itu tak mungkin
Aku tak bisa melakukan itu

Ya Allah, maafkan aku yang terlalu banyak mengeluh
Bisakah Engkau mengabulkan apa yang kuinginkan?
Engkau pengatur segala termasuk dengan hidupku
Apa rencana-Mu untukku hingga aku merasa berat menjalaninya?

Janganlah  Engkau biarkan aku lari dari semua ini
Berilah secerca kesabaran agar hati ini kuat dan tak mengeluh
Berilah selaksa ketaqwaan pada jiwaku untuk selalu mengingat-Mu
Dalam menjalani hidup penuh ujian ini.








Sajak Untukku
Oleh: Aiko Kayyisyah

Kadang aku tegar, kadang aku lemah
Kadang aku jadi penurut,
kadang aku jadi pemberontak

Aku adalah aku
Tak peduli kicauan di luar sana
Yang menghardik dan menghinakan aku

Aku adalah aku
Sekuat apapun rintangan menghantam
Tak akan pernah merubah pendirianku

Aku adalah aku
Yang hidup dalam dunia fatamorgana
Yang tak tau arah tujuannya

Aku adalah aku
Tak ada yang mampu memahami aku
Selain diriku