Antara cinta dan keegoisan
Oleh: Aiko Kayyisyah
Ini adalah kisah cintaku yang buta. Yang tak
tau apa keinginan hatiku. Hati ini selalu merindukan sosok yang telah
menyakitiku berulang kali. Awal ku mengenalnya saja dia telah menyakitiku, entah
aku bodoh atau aku terlalu polos.
Aku telah memilih pergi jauh darinya.
Namun, saat aku kembali dia kembali hadir dalam hidupku. sakit hati itu masih
sangat terbayang dalam benakku. Tapi kenapa? saat dia ingin kembali di hidupku
aku membukakan kembali pintu hatiku. Ku sambut dia dengan kasih sayang tulusku.
Padahal aku tau dia telah menjalin kisah dengan orang terdekatku yang sangat
membuatku terperangah menerima semua kenyataan ini.
Aku kembali menjalin hubungan dengannya tanpa
memikirkan orang lain. Aku telah yakin bahwa dia telah berubah, dia tak akan
menyakitiku lagi seperti yang pernah dia lakukan kepadaku. Namun, aku salah dia
tetap sama seperti yang dulu. Dia kembali menyakitiku, dia meninggalkanku hanya
dengan sebuah alasan yang tak dapat ku terima.
“aku tak bisa bersamamu lagi. Aku tak lagi
merasa nyaman dengan hubungan ini.”
ucapnya saat sepasang mata menatap lekat padanya.
“kau tak bisa seperti ini. ini sangat tidak
adil untukku. Telah kuberikan
semuanya tapi ini balasan kamu? Kau ternyata sama dengan laki-laki di luar sana. Kau laki-laki yang tak
memiliki perasaan.” Cercaku padanya
yang terdiam tanpa kata.
“Aku telah meninggalkan orang yang
menyayangiku demi kau. Tapi apa
balasan yang kau berikan. Kau dengan mudahnya meninggalkanku.
Aku sungguh tak percaya dengan perlakuanmu kepadaku.
Apa salahku? sehingga kau tak henti-hentinya menghancurkan
hatiku.”
“Ana, maafkan aku. Diriku tak mungkin
meninggalkannya.”
“kau tak mungkin meninggalnya? Baik, aku
mengerti itu, tapi jika memang kau
sayang padanya mengapa kau tega menduakannya? Dan kenapa pula jika kau tak mencintaiku lagi, kau kembali memberiku
harapan? Kenapa?”
“maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya.”
Mencoba membela diri
“cukup, pergilah aku tak ingin melihatmu
lagi. Cukup sudah hatiku kau permainkan.”
“tapi, an.”
“cukup, nik. aku tak mau mendengarkan apa-apa
lagi darimu, pergi sekarang.”
Diapun berlalu meninggalkanku tanpa sepatah
kata lagi. Aku pun berbalik pergi dengan deraian airmata.
***
Saat ini ku putuskan untuk membuang perasaan
ini sejauh mungkin dari dalam hatiku. Namun, aku tetap tidak bisa. Semakin aku
berusaha melupakannya, bayangannya semakin nyata tergambar jelas di ingatanku.
Beberapa bulan berlalu, dia kembali memohon
cintaku. Dengan tegas aku menolaknya, aku tak mau tersakiti untuk ketiga
kalinya. Dia pun tak berhenti memohon kepadaku. Hingga hari itu hatiku kembali
luluh di buatnya. Aku pun menerimanya kembali dengan niat membalaskan dendam
sakit hatiku. Namun, seiring berjalannya waktu aku semakin percaya dia telah berubah.
Perasaan dendam itu pun terlupakan dari ingatanku, yang ku tahu aku
menyayanginya dari awal kami bersua sampai hari ini. Perasaan itu tetap
terbungkus rapi dalam hatiku.
Hubungan
kami semakin membaik, keluargaku pun senang dengannya. Dia sangat sopan, dia
sangat sayang kepadaku. Keluarga kami pun semakin dekat dan saling mengenal.
Sampai tiba waktunya, hari yang tidak pernah
ku inginkan akhirnya kini datang juga. Dia berpamitan kepada keluargaku untuk
melanjutkan studi ke Yogyakarta kota impiannya sejak kecil.
Aku tak sanggup untuk menemuinya, namun aku
tak ingin dia pergi begitu saja. Akhirnya ku seka air mataku kemudian aku
menemuinya. Dia berucap kepadaku: “ana, aku sayang kamu. Setiap liburan aku
akan pulang menemuimu dan keluargamu. Lima tahun ke depan aku akan menjemputmu.
Kamu sanggup kan menunggu lima tahun ke depan?”
Dengan berat hati aku menganggukan kepala dan
kembali tertunduk. Airmataku pun menetes. Dia pun menyeka airmataku dan kembali
berucap: “aku akan tetap setia. Jarak tak akan menjadikan hubungan kita
berakhir, kamu belajar yang baik ya? Tetap optimis dan tetap pertahankan
prestasimu ya si pipiet kecilku. Elang akan kembali menjemputmu. Senyum dong?
Pliss”. Aku pun tersenyum
Dia pun meninggalkanku yang masih dengan
perasaan tak menentu. Hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Setiap hari dia
selalu menelfonku. Namun, lama kelamaan semuanya berubah dia mulai jarang
menghubungiku, aku pun mulai gelisah. Hingga tiba saat itu, aku bosan dengan
hubungan ini. Aku pun memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun, dia
bersikeras tetap mempertahankan hubungan ini. Aku tetap mengakhiri semuanya.
Aku tak pernah lagi menghubunginya.
***
Seiring berjalannya waktu aku mampu melupakannya.
Aku memilih sendiri tanpanya. Namun, dia tetap berusaha agar aku berubah fikiran.
Namun, aku tetap mengatakan tidak. Dia terus mengharap aku berubah fikiran.
Setelah aku memikirkannya aku memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status.
Dia pun mengiyakan.
Hingga tiba saatnya dia memberontak keadaan
sampai akhirnya dia memutuskan meninggalkanku. Aku pun pasrah dengan
keputusannya.
“an, aku tak sanggup lagi dengan hubungan
seperti ini, aku lebih baik pergi.”
Ucapnya dengan tegas
“nik, aku tak pernah memaksamu untuk menjalin
hubungan denganku lagi, bukan? Kau
terlalu egois. Semua ini mungkin hanyalah alasan kamu untuk meninggalkanku lagi. Ada yang lain kan selain
aku?”
“an, jaga ucapanmu. Aku hanya ingin kejelasan
atas hubungan kita. Kenapa kau
semakin hari tak pernah menghargaiku. Aku sadar aku telah banyak membuatmu sakit hati. Aku kini telah berubah. Mengapa kau masih saja meragukanku?”
“kau ingin tahu alasanku. Karena aku tak
pernah ingin kau kembali dari hidupku.
paham? Mulai detik ini juga jangan pernah kembali dalam hidupku.”
***
Setelah peerdebatan hebat itu, bertahun-tahun
dia tak lagi menghubungiku. Tapi, entah kenapa saat ini aku sangat merindukannya.
Aku tak tau harus bagaimana kerinduan ini tak mampu jika harus selalu ku
pendam. Hatiku sakit, Elang tak rindukah kau pada pipiet kecilmu yang pernah
mengisi hatimu? Aku berharap kau merasakan hal yang sama. Biarlah kerinduan ini
bersemayam dalam jiwaku dan terpendam dalam hati ini. Hingga nanti ku temukan
jawaban atas kerinduan ini. maafkan aku dengan segala keegoisanku hingga
membuatmu pergi.