Saat saya membaca beberapa blog
dan catatan di Facebook yang ditulis oleh sesama muslimah, banyak yang
bertemakan pencarian pasangan hidup yang baik, baik bagi diri mereka sendiri
ataupun orang-orang yang mereka kasihi. Mungkin topik ini sangat berkaitan
dengan rentang usia dari para penulisnya, namun saya menyadari bahwa menemukan
pasangan hidup yang sesuai bukanlah masalah sepele. Dan seiring berlalunya
usia, waktu mulai mengaburkan memori saya tentang betapa sulitnya menemukan
seorang pasangan hidup idaman.
Semuanya terjadi di seputar ulang tahun saya yang
ke-20. Saya melakukan langkah penting terkait keimanan saya dan beralih kepada
Islam setelah beberapa tahun mempelajari dan mempertimbangkan baik-baik sebelum
akhirnya mengambil keputusan. Sebagai seorang perempuan Amerika dalam usia
pencarian jodoh, saya banyak memiliki pengalaman dalam hal patah hati. Saya
bukan tipe perempuan yang mau terlibat dalam hubungan sesaat. Saya mencari
sebuah hubungan serius, namun jarang berjumpa dengan laki-laki yang punya
tujuan sama.
Sebagai seseorang yang baru menjadi muslimah,
saya tahu ada cara yang lebih baik untuk melakukan pencarian cinta dan hubungan
seumur hidup. Saya memutuskan bahwa jika saya menginginkan hubungan serius,
maka sudah waktunya untuk melakukan aksi yang serius. Saya memantapkan pikiran
dan hati saya untuk memohon kepada Allah agar memandu saya menemukan seorang
suami yang bertujuan sama.
Saya menginginkan sebuah perjodohan.
Bagi kebanyakan orang dalam hidup saya, hal ini
terlihat seperti penindasan. Keterkejutan mereka melihat saya masuk Islam cukup
membuat mereka kebingungan – dan kini saya berniat menjalani sebuah perjodohan.
Bagi orang-orang di sekeliling saya yang memiliki pemahaman terbatas perihal
Islam, istilah “perjodohan” menampilkan gambaran tentang sebuah transaksi bawah
tangan di mana seorang ayah yang kejam menjual putrinya kepada laki-laki yang
tak dikenalnya dan sudah pasti akan menyiksanya.
Namun saya tahu bahwa dalam keyakinan yang baru
saya anut, kaum perempuan memegang kontrol penuh untuk menyetujui siapa yang
akan dinikahinya.
Saya merasa bahwa sebagai seorang muslimah, saya
bisa meminta sesuatu kepada laki-laki yang saya harap menjadi suami saya,
mengajukan pertanyaan apa pun kepadanya hingga intensitas hubungan beranjak ke
jenjang lanjut yang serius, dan membuat sebuah perjanjian dengannya untuk
menindaklanjuti kesepakatan bersama menuju pernikahan. Apa lagi yang kurang
dari semua kesempatan ini?
Maka pencarian pun dimulai.
Saya merasa seperti Goldilock dari dongeng The
Story of The Three Bears (Kisah Tiga Beruang). Kandidat nomor satu tampak
terlalu kasar. Kandidat nomor dua terlihat terlalu “berbudaya”. Kandidat nomor
tiga sepertinya tepat. Bukan berarti ada banyak peminang yang mengantre saat itu.
Bagi seorang mualaf baru, yatim-piatu Amerika
bagian selatan seperti saya, pilihan menjadi terbatas. Para pelamar meragukan
latar belakang saya. Jejaring sosial pun saat itu masih menjadi ide dalam
kepala seorang Mark Zuckerberg, sehingga tak ada cara untuk memperkenalkan diri
kepada dunia. Percayalah, setiap calon pelamar butuh sekian waktu hingga
akhirnya ditemukan. Para saudari dilibatkan. Sekian kontak dilakukan. Tim para
tante dihubungi untuk diminta beraksi.
Di saat saya mulai mewawancarai dan menelusuri
perihal kandidat nomor satu dan dua, saya mulai semakin memahami apa yang cari
dari seorang pasangan muslim dan apa yang sudah pasti tidak saya
inginkan. Karena setelah masuk Islam saya harus berurusan dengan masalah adat
budaya tertentu yang “tak Islami”, saya sadar untuk tidak menempatkan suatu
budaya tertentu di atas budaya Islam. Saya hanya menginginkan menjadi seorang
muslim – bukan seorang Arab atau Pakistan – sehingga tak menginginkan seorang
suami yang akan mengindoktrinasi saya perihal budayanya.
Menganut Islam dan merasakan penghormatan
sesungguhnya untuk pertama kali sebagai perempuan, saya yakin tak menginginkan
seorang laki-laki menikahi saya hanya karena prakonsepsi mereka tentang sosok
perempuan Amerika berkulit putih. Saya seorang muslimah dan saya ingin
diperlakukan dengan segala perlakuan hormat sebagaimana seharusnya sesuai
syariat.
Saya putuskan bahwa cara terbaik untuk
menjalaninya adalah dengan menikahi seorang mualaf seperti saya – apa pun latar
belakang sosio-ekonomi maupun rasnya. Saya paham kriteria ini akan membuat
rentang pilihan saya menjadi lebih sempit. Namun saya juga tahu bahwa siapa
pun, sebagai mualaf, pasti memahami segala jatuh-bangun saya. Ia akan memahami
apa yang telah saya korbankan di jalan Allah, dan akan memahami apa saja yang
telah saya raih.
Saya menginginkan seseorang yang telah melalui
rintangan yang sama, yang saya tahu banyak kaum muslim juga telah mengalaminya
di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Namun, seandainya saya sudah
menyadarinya saat itu, mungkin saya tidak akan menemukan pasangan luar biasa
yang kini menjadi suami saya.
Setelah teman di komunitas muslim saya mengetahui
kriteria final saya, mereka mulai beraksi dan kembali dengan sebuah surel yang
menjanjikan. Dengan surel itu, calon suami saya dan saya melewati perjalanan
perkenalan yang kikuk dan canggung di perkenalan awal di mana kami mendaftar
semua data kami (tinggi saya lima kaki empat inci atau 1,62 meter, bertangan
kidal, dan suka berjalan-jalan di mal) hingga pada surel kedua dan surel ketiga
yang mencantumkan tuntutan kami masing-masing (Anda harus menjalankan shalat
lima waktu, dan keyakinan Anda harus menjadi prioritas), kemudian pada surel
keempat yang mencantumkan detail syarat bagaimana pertemuan kami (Anda yang
membawa teman, saya yang akan mengatur tempatnya), hingga surel kelima kami
saat ia mengungkapkan bahwa ia jatuh cinta kepada saya yang membuat saya
tersipu dan yakin bahwa dialah yang saya cari.
Perjalanan ini mengantarkan kami ke pernikahan
sebulan setelah surel pertama. Satu bulan cukup rasanya untuk mengetahui semua
yang perlu saya ketahui. Satu bulan dan akhirnya kami bisa duduk berdua-duaan
dan berpegangan tangan untuk pertama kalinya, setelah akad nikah kami
ditandatangani.
Mungkin saja saya belum jatuh cinta saat saya
menikah, namun saya yakin saya telah menemukan laki-laki yang saya pilih untuk
saya cintai, karena ia mencintai Allah dan ia adalah muslim yang baik. Kisah
saya tidak berakhir dengan pernikahan, seperti kebanyakan dongeng dan komedi
romantis umumnya. Kisah ini justru bermula saat kami jatuh cinta untuk sebuah
alasan yang benar.
Meski sulit untuk menemukan pasangan hidup –
entah kita menemukan seseorang atau tidak, entah kita jatuh cinta atau
menjalani perjodohan – adalah hal yang penting untuk memahami apa yang kita
inginkan, apa yang akan kita hadapi dan akan kita persiapkan untuk masa depan
kita.
Menurut saya persiapan terbaik dalam pernikahan
adalah mendasari hubungan kita di atas sebuah ikatan yang sulit untuk
diputuskan – sebuah ikatan yang berlandaskan cinta satu sama lain untuk Allah
dan Islam.
