Selasa, 24 Juni 2014

Cerpen



Cerita cinta di kota Daeng
Oleh: Aiko Kayyisyah

            Makassar, aku tiba di kota daeng. Panas. Itulah kesan pertama aku berada disini. Tak seorangpun kukenal. Asing ya memang sangat asing.
            Terik matahari memayungi langkahku yang sedang berjalan di trotoar. Tiba-tiba sebuah kendaraan roda dua menghampiriku. Langkahku pun terhenti. Seorang wanita menyapaku.
            “permisi, kak.”
            “em, iya. Ada apa?”
            “saya ingin bertanya. Dimana ya fakultas MIPA disini?”
            “oh, maaf saya mahasiswa baru disini.”
            “oh, maaf.” Sembari tersipu malu dia berlalu meninggalkanku.
***
            Selamat pagi, Makassar?
          Tak ada udara segar disini yang ada hanya polusi. Huh… dengusku sembari menatap keramaian di atas lantai tiga.
            “Natan.” Sembari menepuk pundakku. Terkejut bukan kepalang hingga      membuyarkan semua lamunanku.
            “Andi? Kamu kuliah disini juga?”
            “iya, kan kita sehati tan.” Sembari tertawa.
            “Idih, malas banget.” Jawabku sinis  
            “bercanda kali, tan. Oh, iya kenalkan, ini Prili sepupuku.”
            Kupandangi wanita yang tertunduk malu itu. Sosok itu tak asing bagiku, aku pernah bertemu dengannya tapi dimana ya? pikirku mencoba mengingat. Ah,  Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
           
            Aku dan prili pun berkenalan. Sejak pertemuan itu, aku selalu terbayang wajah lugu penuh damai itu. Kucoba mencari tahu semua tentang prili tanpa sepengetahuannya.
            Prili, selain berparas cantik dia juga sangat pandai. Dia keturunan bangsawan bugis. Selain itu, dia adalah seorang akhwat. Pakaiannya yang sopan dan rapi serta hijab yang dia kenakan membuatnya semakin sempurna.
***
            Semester demi semester berlalu, hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh para mahasiswa yakni wisuda. Namun, sampai detik ini pun rasa itu tetap terpintal rapi dalam hatiku. Aku mencoba menghapus segala rasa yang ada. Namun, itu sangat sulit. Aku dan prili sangat jauh berbeda. Aku hanyalah seorang laki-laki dari keluarga yang sederhana sedangkan prili. Hufft… berharap memiliki prili sama dengan berharap memeluk bulan. Tak akan mungkin dan tak akan bisa.
            “Natan, selamat ya?” sebuah suara menyadarkanku. Suara yang tak asing    ya, itu suara prili.
            “em, iya. Kamu juga selamat ya?”
            Prili hanya mengangguk tersenyum. Dan berlalu meninggalkanku.
            Hari itu begitu indah, bagai berada di taman ditemani pelangi. Untuk kedua kalinya Prili menyapaku setelah pertemuan tiga tahun silam itu. Tiba-tiba prili membalikkan badan.
            “Natan, nanti malam kamu ada acara?”
            “em, tidak. ada apa prili?”
            “aku berharap kamu bisa hadir di acara syukuran nanti malam.”
            “iya, aku usahakan datang.”
            Sambil tersenyum, dia pun melanjutkan langkahnya.
***
            Matahari terbenam di kaki cakrawala, malam pun menyapaku dalam bahagia. Kulangkahkan kaki menuju rumah prili yang tidak jauh dari kediamanku. Dari kejauhan kulihat prili kelihatan cemas. Nampaknya dia sedang menunggu seseorang. Berkali-kali dia menatap ke benda yang melingkar di tangannya sesekali juga dia menatap mencoba menembus kegelapan di hadapannya.
            Aku pun memasuki kediaman prili, dia sedikitpun tak menghiraukanku. Jangankan menyapa senyumpun tidak. Sungguh hati ini terasa sakit. Sebenarnya siapa yang sedang prili tunggu? Diriku semakin bertanya-tanya dalam hati.
            Tidak berapa lama kemudian, seorang wanita setengah baya datang dan menghampiri prili. Wajah prili seketika itu juga berubah menjadi  riang, dia memeluk wanita separuh baya itu. Siapa wanita itu? Akupun tak henti-hentinya memandangi mereka. Nampaknya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Ah… kenapa aku sibuk mencari tahu. Hem.
            Kualihkan pandanganku dan melangkah menghampiri kerumunan teman-temanku yang sedang asyik menikmati hidangan yang telah disediakan. Oh, iya. Dimana Andi bukannya dia sepupu prili, kenapa dia tak nampak disini?
***
            Setahun berlalu, setelah acara itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan prili maupun andi. Aku memutuskan untuk kembali ke kampung. Membawa sebilah cinta yang  masih melekat di hati.
            Tiba-tiba handphone berdering. Sebuah pesan singkat mendarat di layarnya. Andi, tidak biasanya dia mengirim pesan singkat seperti ini. Betapa terkejutnya aku membaca pesan singkat itu. Andi mengatakan bahwa Prili sedang dirawat di Rumah sakit. Selama ini prili mengidap penyakit kanker otak. Dan dia berharap detik ini dia bisa berjumpa denganku. Dengan hanya bermodal pas-pasan aku berangkat ke kota daeng untuk bertemu dengan prili.
***
            Dari balik pintu, kulihat tubuh prili yang terbaring lemah. Aku tak sanggup melihat keadaannya. Dengan perasaan sedih kumemasuki ruangan itu. Senyum lemah terlihat di bibir prili.
            “Natan, terima kasih kamu telah bersedia menemuiku.”
            “iya, prili. Kamu cepat sembuh ya?”
            Mengangguk pelan.
            “natan, aku ingin mengungkapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun       aku simpan rapi dalam hati. Inilah saatnya kamu tahu semuanya.”
            “apa itu prili? Katakanlah.”
            “bertahun-tahun aku mengagumimu. Aku menyimpan perasaan ini begitu    lama. Aku takut kehilanganmu, Natan. Tapi aku sadar dengan kondisiku        seperti ini aku takkan mungkin bisa bersamamu.” Mata prili berkaca-kaca
            Ruangan itu seakan terdiam mendengar kata-kata itu, bahkan dunia seakan bungkam dengan semua ini. apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus mengatakan sejujurnya. Akupun memiliki perasaan yang sama.
            “prili, sejujurnya akupun memiliki perasaan yang sama sepertimu. Namun,   terlalu sulit buatku mengutarakannya. Maafkan aku prili telah     membiarkanmu memendam perasaan itu. Kini, aku tak ingin             membiarkanmu pergi lagi. Kita akan menjalani semuanya. Didepan kedua   orangtuamu aku ingin meminangmu, prili.”
            Ruangan itu semakin bungkam. Prili pun tak kuasa meneteskan airmata. Orangtua prili menyetujui semuanya. Bahkan mereka menetapkan pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah prili keluar dari rumah sakit.
***
            Hari yang di nanti-natikan kini datang juga. Prili bagaikan bidadari, aku pun terpaku melihatnya.  Acara telah berlangsung, janji suci akan segera mengikat aku dan prili.
            Setelah janji suci itu terucap betapa terkejutnya aku prili terjatuh dalam pangkuanku.
            “Natan, kini kita telah menjadi pasangan yang utuh, terima kasih. Aku        sayang kamu.”
            Itulah kata terakhir yang diucapkan prili, matanya terpejam untuk selamanya. Selamat jalan prili meski jasadmu tak lagi bersamaku cinta ini akan abadi di hati.