Sabtu, 12 Desember 2015

Curahan Lepas


 Dilema dalam Bimbang

Terkadang hidup ini penuh dengan tanda tanya 
dari masalah hingga penyelesaiannya.
 begitupun diriku yang hingga detik ini tak mengerti 
apa salah  hidup ini yang sebenarnya. 
Berkorban pun salah tak ada gunanya. 
Diampun juga salah menimbulkan sebuah masalah. 
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? 
tak adakah sedikit kebenaran yang aku lakukan? 
tak adakah setitik saja penghargaan atas pengorbanan yang telah kuberikan? 
Problematika yang mengharukan dilema hati yang mengenaskan.
Yaa Robbi...
berikan aku kesabaran menghadapi semua ini
atau maafkan aku yang selalu mengeluh disetiap ujianmu
hingga detik sunyi ini aku terpaku tanpa jawaban yang berarti
Disini... Ya disini
dalam hati yang ternoda benci
dalam angan yang terbalut elegi
diriku memilih bertahan disini menanti sebuah jawaban yang berarti

Jumat, 25 September 2015


Puisi

 ILMU
Aiko Kayyisyah
 
Entah dari sudut mana
aku akan memulai menulis sebuah karya
merangkai kata demi kata
menjadi bait-bait yang indah
hingga mengandung sebuah makna
karena terkadang ilhamku hadir tanpa henti
namun, terkadang ilhamku binasa tanpa sisa

aku bagaikan sebuah pena
mengukir kisah menciptakan sebuah karya yang bermakna
aku bagaikan lembaran-lembaran kertas putih
yang menunggu sang pena mengukir setiap lembaran
merekayasa karya dengan kata

penaku tak akan lapuk dimakan usia
karena telah dicipta begitu hebatnya
ciptaan sang maha kuasa lagi bijaksana
penaku hanyalah sebuah perantara
untukku menciptakan cahaya dalam gelapnya dunia

aku hanyalah segumpal darah, daging, tulang dan kulit
aku akan binasa pada waktunya
namun, ilmu yang telah dianugerahkan padaku
akan tetap abadi walau jasad tak lagi bernyawa
kan menjadi sebuah cahaya yang indah hingga malaikat mengepakkan sayapnya.

Senin, 07 September 2015

Just For you (yang Merasa)



“FOR YOU STYA”
Ketika kelebihan berbuah kesombongan dan keegoisan,
Semua hal yang salahpun menjadi benar.
Ketika kedewasaan menjadi sebuah ukuran kepribadian kau jadikan dirimu dewasa tanpa pilihan
Dewasa dengan ego,
Kau memilih tapi kau tuli,
Kau sanggah semua masukan
Enggan kau tampung sebelum kau buang
Inikah yang kau namakan kedewasaan?
Kaubuta dengan sebuah tahta hingga kau relakan sebuah hati menjadi korban
Menyakiti tanpa disadari
Mencela tanpa cela
Membanggakan diri layaknya seorang raja diatas tahta
Hufft...
Cara pandang yang liberal menjadikan kawan sebagai lawan
Mencela tanpa mempedulikan perasaan.
Inginku tau sebab kaumelakukan itu
Agar tak ada lagi hati yang kan tersakiti karena sikapmu.

>>>AIKO KAYYISAH<<<

Rabu, 02 September 2015

Surat untuk Sahabatku

kawan,
 kutitipkan sebingkai rindu untuk perpisahan yang tak pernah mempertemukan kita.
kawan,
melalui surat ini aku akan bercerita tentang kehidupan
kehidupan yang kini jauh dari harapan yang pernah kita cita-citakan dulu.
kawan, tahukah kamu?
kampung halaman yang dulu mempertemukan kita.
yang dulu adalah tempat ternyaman
yang ketika kita berada disana kehidupan layaknya di surga.
kini, tempat itu menjadi layaknya neraka
aku tak mampu untuk bertahan
namun, aku tak akan mungkin meninggalkan tempat yang dahulu menjadi surga kehidupan kita.

kawan,
 tengoklah sejenak surga kita yang kini menjadi neraka
tak inginkah kau mengembalikan surga itu?
kawan,
kuberi kau sebuah pilihan
bertahan dengan luka
atau mati mempertahankan surga?




Jumat, 26 Juni 2015

Puisi

Menunggu Membuatku Rapuh


Adakah seorang insan yang bahagia ketika menunggu?
Adakah seorang kasih yang tak jenuh dalam menanti sebuah harapan tanpa kepastian? 
mungkin kaulah insan itu
mungkin kaulah kasih itu
hingga kau tak pernah ingin tahu betapa rapuhnya ketika menunggu

hei, dimanakah perasaanmu ketika kau beri harapan tanpa kepastian?
apa kau punya rencana yang lebih indah nantinya?
hanya kau yang tahu

Menunggu membuatku rapuh
bagai kayu yang tergerogoti rayap
ya, menunggu bagai rayap yang menggerogoti hidupku

ingin melangkah pergi
apalah daya diri ini tak mampu melupa
sebab ada janji yang tak mampu terjamah oleh indera
yakni setia


Minggu, 17 Mei 2015

Perjodohan yang berujung cinta




Saat saya membaca beberapa blog dan catatan di Facebook yang ditulis oleh sesama muslimah, banyak yang bertemakan pencarian pasangan hidup yang baik, baik bagi diri mereka sendiri ataupun orang-orang yang mereka kasihi. Mungkin topik ini sangat berkaitan dengan rentang usia dari para penulisnya, namun saya menyadari bahwa menemukan pasangan hidup yang sesuai bukanlah masalah sepele. Dan seiring berlalunya usia, waktu mulai mengaburkan memori saya tentang betapa sulitnya menemukan seorang pasangan hidup idaman.
Semuanya terjadi di seputar ulang tahun saya yang ke-20. Saya melakukan langkah penting terkait keimanan saya dan beralih kepada Islam setelah beberapa tahun mempelajari dan mempertimbangkan baik-baik sebelum akhirnya mengambil keputusan. Sebagai seorang perempuan Amerika dalam usia pencarian jodoh, saya banyak memiliki pengalaman dalam hal patah hati. Saya bukan tipe perempuan yang mau terlibat dalam hubungan sesaat. Saya mencari sebuah hubungan serius, namun jarang berjumpa dengan laki-laki yang punya tujuan sama.
Sebagai seseorang yang baru menjadi muslimah, saya tahu ada cara yang lebih baik untuk melakukan pencarian cinta dan hubungan seumur hidup. Saya memutuskan bahwa jika saya menginginkan hubungan serius, maka sudah waktunya untuk melakukan aksi yang serius. Saya memantapkan pikiran dan hati saya untuk memohon kepada Allah agar memandu saya menemukan seorang suami yang bertujuan sama.
Saya menginginkan sebuah perjodohan.
Bagi kebanyakan orang dalam hidup saya, hal ini terlihat seperti penindasan. Keterkejutan mereka melihat saya masuk Islam cukup membuat mereka kebingungan – dan kini saya berniat menjalani sebuah perjodohan. Bagi orang-orang di sekeliling saya yang memiliki pemahaman terbatas perihal Islam, istilah “perjodohan” menampilkan gambaran tentang sebuah transaksi bawah tangan di mana seorang ayah yang kejam menjual putrinya kepada laki-laki yang tak dikenalnya dan sudah pasti akan menyiksanya.
Namun saya tahu bahwa dalam keyakinan yang baru saya anut, kaum perempuan memegang kontrol penuh untuk menyetujui siapa yang akan dinikahinya.
Saya merasa bahwa sebagai seorang muslimah, saya bisa meminta sesuatu kepada laki-laki yang saya harap menjadi suami saya, mengajukan pertanyaan apa pun kepadanya hingga intensitas hubungan beranjak ke jenjang lanjut yang serius, dan membuat sebuah perjanjian dengannya untuk menindaklanjuti kesepakatan bersama menuju pernikahan. Apa lagi yang kurang dari semua kesempatan ini?
Maka pencarian pun dimulai.
Saya merasa seperti Goldilock dari dongeng The Story of The Three Bears (Kisah Tiga Beruang). Kandidat nomor satu tampak terlalu kasar. Kandidat nomor dua terlihat terlalu “berbudaya”. Kandidat nomor tiga sepertinya tepat. Bukan berarti ada banyak peminang yang mengantre saat itu.
Bagi seorang mualaf baru, yatim-piatu Amerika bagian selatan seperti saya, pilihan menjadi terbatas. Para pelamar meragukan latar belakang saya. Jejaring sosial pun saat itu masih menjadi ide dalam kepala seorang Mark Zuckerberg, sehingga tak ada cara untuk memperkenalkan diri kepada dunia. Percayalah, setiap calon pelamar butuh sekian waktu hingga akhirnya ditemukan. Para saudari dilibatkan. Sekian kontak dilakukan. Tim para tante dihubungi untuk diminta beraksi.
Di saat saya mulai mewawancarai dan menelusuri perihal kandidat nomor satu dan dua, saya mulai semakin memahami apa yang cari dari seorang pasangan muslim dan apa yang sudah pasti tidak saya inginkan. Karena setelah masuk Islam saya harus berurusan dengan masalah adat budaya tertentu yang “tak Islami”, saya sadar untuk tidak menempatkan suatu budaya tertentu di atas budaya Islam. Saya hanya menginginkan menjadi seorang muslim – bukan seorang Arab atau Pakistan – sehingga tak menginginkan seorang suami yang akan mengindoktrinasi saya perihal budayanya.
Menganut Islam dan merasakan penghormatan sesungguhnya untuk pertama kali sebagai perempuan, saya yakin tak menginginkan seorang laki-laki menikahi saya hanya karena prakonsepsi mereka tentang sosok perempuan Amerika berkulit putih. Saya seorang muslimah dan saya ingin diperlakukan dengan segala perlakuan hormat sebagaimana seharusnya sesuai syariat.
Saya putuskan bahwa cara terbaik untuk menjalaninya adalah dengan menikahi seorang mualaf seperti saya – apa pun latar belakang sosio-ekonomi maupun rasnya. Saya paham kriteria ini akan membuat rentang pilihan saya menjadi lebih sempit. Namun saya juga tahu bahwa siapa pun, sebagai mualaf, pasti memahami segala jatuh-bangun saya. Ia akan memahami apa yang telah saya korbankan di jalan Allah, dan akan memahami apa saja yang telah saya raih.
Saya menginginkan seseorang yang telah melalui rintangan yang sama, yang saya tahu banyak kaum muslim juga telah mengalaminya di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Namun, seandainya saya sudah menyadarinya saat itu, mungkin saya tidak akan menemukan pasangan luar biasa yang kini menjadi suami saya.
Setelah teman di komunitas muslim saya mengetahui kriteria final saya, mereka mulai beraksi dan kembali dengan sebuah surel yang menjanjikan. Dengan surel itu, calon suami saya dan saya melewati perjalanan perkenalan yang kikuk dan canggung di perkenalan awal di mana kami mendaftar semua data kami (tinggi saya lima kaki empat inci atau 1,62 meter, bertangan kidal, dan suka berjalan-jalan di mal) hingga pada surel kedua dan surel ketiga yang mencantumkan tuntutan kami masing-masing (Anda harus menjalankan shalat lima waktu, dan keyakinan Anda harus menjadi prioritas), kemudian pada surel keempat yang mencantumkan detail syarat bagaimana pertemuan kami (Anda yang membawa teman, saya yang akan mengatur tempatnya), hingga surel kelima kami saat ia mengungkapkan bahwa ia jatuh cinta kepada saya yang membuat saya tersipu dan yakin bahwa dialah yang saya cari.
Perjalanan ini mengantarkan kami ke pernikahan sebulan setelah surel pertama. Satu bulan cukup rasanya untuk mengetahui semua yang perlu saya ketahui. Satu bulan dan akhirnya kami bisa duduk berdua-duaan dan berpegangan tangan untuk pertama kalinya, setelah akad nikah kami ditandatangani.
Mungkin saja saya belum jatuh cinta saat saya menikah, namun saya yakin saya telah menemukan laki-laki yang saya pilih untuk saya cintai, karena ia mencintai Allah dan ia adalah muslim yang baik. Kisah saya tidak berakhir dengan pernikahan, seperti kebanyakan dongeng dan komedi romantis umumnya. Kisah ini justru bermula saat kami jatuh cinta untuk sebuah alasan yang benar.
Meski sulit untuk menemukan pasangan hidup – entah kita menemukan seseorang atau tidak, entah kita jatuh cinta atau menjalani perjodohan – adalah hal yang penting untuk memahami apa yang kita inginkan, apa yang akan kita hadapi dan akan kita persiapkan untuk masa depan kita.
Menurut saya persiapan terbaik dalam pernikahan adalah mendasari hubungan kita di atas sebuah ikatan yang sulit untuk diputuskan – sebuah ikatan yang berlandaskan cinta satu sama lain untuk Allah dan Islam.

AKU LEBIH MEMILIH DIAM

aku lebih memilih diam terpaku dalam kesunyian tanpa seuntai katapun,
karena pandanganku tentang rindu ialah semu.
terkadang merindunya hati tak dapat tertahan dengan celotehan kata.

aku lebih memilih diam,
saat hati meronta ketika malam menyapa.
aku tak berdaya ketika fikir ini kembali melayang mengingat tentangmu
tentangmu yang kini entah dimana

aku lebih memilih diam,
karena kutahu yang mencintaimu bukan hanya aku

aku lebih memilih diam,
agar kau tetap bahagia, agar tak ada bebanmu untuk memikirkanku
diam ini bukan tak berarti apa-apa,
diamku agar kita tetap bertahan meski tanpa ikatan

aku lebih memilih diam,
membunuh segala rasa untuk sementara
agar aku tetap bisa menunggu dirimu disini,
karena sampai saat ini kaumasih tetap yang terindah.


Makassar, 18 Mei 2015


Minggu, 22 Maret 2015

Novel "The Bitter story in Xinbei"



1

Pada tahun 1995 di Xinbei, aku Xiang lee yang berdarah china-jawa yang harus mematuhi seluruh peraturan-peraturan dalam keluarga yang begitu mencekam. bagi para perempuan China tugas harus di dahulukan daripada hasrat pribadi begitupun dalam adat jawa kepatuhan terhadap orang tua harus di dahulukan daripada keinginan pribadi. 
Kehidupanku jauh berbeda dengan remaja pada umumnya, sejak tahun 1995 aku bersama orang tuaku kembali kekampung halaman di Xinbei, China. Disana keseharianku bermain bersama anak-anak yatim yang memiliki nasib hidup yang tidak pernah mereka harapkan.
 Menatap hampa di kejauhan, anganpun menerawang ke masa sepuluh tahun silam 1984. Kedamaian hidup yang tak ingin kuakhiri. Masih tergambar jelas dalam ingatanku ketika sosok perempuan muda itu memelukku dengan kasih sayangnya, dia Ibuku. Semuanya sangat indah sebelum semua ini terjadi.
Ibu yang telah meninggalkanku saat aku berumur sembilan tahun. Kejadian itu tak akan pernah terlupakan buatku. Hingga saat ini saat aku telah berumur dua puluh tahun. Hari yang seharusnya indah berakhir duka, pada saat itu kami berniat mengunjungi salah satu tempat pariwisata di Malang, Jawa Timur. Tapi, hal yang tak kami sangka terjadi mobil kami bertabrakan dengan bus antarkota. Aku dan Ayah selamat dari kecelakaan maut itu tapi tidak dengan Ibu. begitu terpukulnya aku saat itu melihat tubuh ibu terbujur kaku berbalut kain putih di Rumah Sakit. Hati sungguh tak kuasa ingin menangis namun, mulut ini seolah terkunci aku hanya duduk terdiam tanpa kata. Ayah yang sempat mengalami koma selama seminggu membuatku benar-benar kehilangan semangat hidup.
***
Duka masih membalut keluarga kecil ini, yah, aku dan ayah masih tak percaya dengan semua ini sulit buat kami menerima kenyataan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Aku masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang ibu, kesunyian kini membalut kehidupanku begitupun dengan ayah. Meski ayah berusaha tegar di hadapanku tetapi raut wajah ayah tak bisa menyembunyikan itu bahwa ayah merasa benar-benar kehilangan.



To be continue...