Minggu, 22 Maret 2015

Novel "The Bitter story in Xinbei"



1

Pada tahun 1995 di Xinbei, aku Xiang lee yang berdarah china-jawa yang harus mematuhi seluruh peraturan-peraturan dalam keluarga yang begitu mencekam. bagi para perempuan China tugas harus di dahulukan daripada hasrat pribadi begitupun dalam adat jawa kepatuhan terhadap orang tua harus di dahulukan daripada keinginan pribadi. 
Kehidupanku jauh berbeda dengan remaja pada umumnya, sejak tahun 1995 aku bersama orang tuaku kembali kekampung halaman di Xinbei, China. Disana keseharianku bermain bersama anak-anak yatim yang memiliki nasib hidup yang tidak pernah mereka harapkan.
 Menatap hampa di kejauhan, anganpun menerawang ke masa sepuluh tahun silam 1984. Kedamaian hidup yang tak ingin kuakhiri. Masih tergambar jelas dalam ingatanku ketika sosok perempuan muda itu memelukku dengan kasih sayangnya, dia Ibuku. Semuanya sangat indah sebelum semua ini terjadi.
Ibu yang telah meninggalkanku saat aku berumur sembilan tahun. Kejadian itu tak akan pernah terlupakan buatku. Hingga saat ini saat aku telah berumur dua puluh tahun. Hari yang seharusnya indah berakhir duka, pada saat itu kami berniat mengunjungi salah satu tempat pariwisata di Malang, Jawa Timur. Tapi, hal yang tak kami sangka terjadi mobil kami bertabrakan dengan bus antarkota. Aku dan Ayah selamat dari kecelakaan maut itu tapi tidak dengan Ibu. begitu terpukulnya aku saat itu melihat tubuh ibu terbujur kaku berbalut kain putih di Rumah Sakit. Hati sungguh tak kuasa ingin menangis namun, mulut ini seolah terkunci aku hanya duduk terdiam tanpa kata. Ayah yang sempat mengalami koma selama seminggu membuatku benar-benar kehilangan semangat hidup.
***
Duka masih membalut keluarga kecil ini, yah, aku dan ayah masih tak percaya dengan semua ini sulit buat kami menerima kenyataan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Aku masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang ibu, kesunyian kini membalut kehidupanku begitupun dengan ayah. Meski ayah berusaha tegar di hadapanku tetapi raut wajah ayah tak bisa menyembunyikan itu bahwa ayah merasa benar-benar kehilangan.



To be continue...
 

1 komentar: