“Syair Arab”
مَا كُلُّ مَا يَتَمَنَّى الْمَرْءُ يُدْرِكُهُ
تَجْرِي الرِّيَاحُ بِمَا لاَ تَشْتَهِي السُّفُنُ
تَجْرِي الرِّيَاحُ بِمَا لاَ تَشْتَهِي السُّفُنُ
Tidaklah
setiap harapan (cita-cita) seseorang akan didapatkannya
Angin bertiup dengan tiupan yang tidak disukai perahu
[Abu Thayyib al-Mutanabbi (w.354 H)]
Angin bertiup dengan tiupan yang tidak disukai perahu
[Abu Thayyib al-Mutanabbi (w.354 H)]
Maksudnya
: cita-cita seseorang tidak mesti terwujud, sebagaimana angin yang bertiup ke
arah yang tidak dikehendaki oleh perahu layar
مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الْهَوَانُ عَلَيْهِ
مَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيْلاَمُ
مَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيْلاَمُ
Barangsiapa
yang merendah, maka akan mudah menanggung kehinaan
Luka bagi mayat tidak memberinya rasa sakit [Abu Thayyib al-Mutanabbi (w. 354 H)]
Luka bagi mayat tidak memberinya rasa sakit [Abu Thayyib al-Mutanabbi (w. 354 H)]
تَرْجُو النَّجَاةَ وَ لَمْ تَسْلُكْ
مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
Kau
mengharapkan keselamatan, namun tak kau tempuh jalannya
Sesungguhnya perahu tidak dapat berlayar di atas daratan [Abul ‘Atahiyah (w. 211 H)]
Sesungguhnya perahu tidak dapat berlayar di atas daratan [Abul ‘Atahiyah (w. 211 H)]
نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى
مَا الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الأَوَّلِ
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى
وَحَنِيْنُهُ أَبَدًا لأَِوَّلِ مَنْزِل
مَا الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الأَوَّلِ
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى
وَحَنِيْنُهُ أَبَدًا لأَِوَّلِ مَنْزِل
Palingkan
hatimu terhadap kesenangan sesukamu
tidaklah cinta melainkan untuk kekasih pertama
berapa banyak rumah di bumi ini yang disukai pemuda
sedangkan kerinduannya tetap pada rumah pertama
[Abu Tamam (w. 231 H)]
tidaklah cinta melainkan untuk kekasih pertama
berapa banyak rumah di bumi ini yang disukai pemuda
sedangkan kerinduannya tetap pada rumah pertama
[Abu Tamam (w. 231 H)]
يَنَالُ الْفَتَى مِنْ عَيْشِهِ وَ هُوَ
جَاهِلُ
وَيُكْدِي الْفَتَى فِي دَهْرِهِ وَ هُوَ عَالِمُ
وَلَوْ كَانَتِ اْلأَرْزَاقُ تَجْرِي عَلَى الْحِجَا
هَلَكْنَ إِذَنْ مِنْ جَهْلِهِنَّ الْبَهَائِمُ
وَيُكْدِي الْفَتَى فِي دَهْرِهِ وَ هُوَ عَالِمُ
وَلَوْ كَانَتِ اْلأَرْزَاقُ تَجْرِي عَلَى الْحِجَا
هَلَكْنَ إِذَنْ مِنْ جَهْلِهِنَّ الْبَهَائِمُ
Seorang
pemuda berhasil meraih kehidupannya padahal ia bodoh
Dan seorang pemuda miskin sepanjang hidupnya padahal dia pandai
Seandainya mengalirnya rezeki karena akal
Niscaya binatang ternak binasa karena kebodohannya
[Abu Tamam (w. 231 H)]
Dan seorang pemuda miskin sepanjang hidupnya padahal dia pandai
Seandainya mengalirnya rezeki karena akal
Niscaya binatang ternak binasa karena kebodohannya
[Abu Tamam (w. 231 H)]
ditulis
di maktabah al-Hidayah
oleh jundi abu nakhla
oleh jundi abu nakhla
Tidak ada komentar:
Posting Komentar