Jumat, 25 September 2015


Puisi

 ILMU
Aiko Kayyisyah
 
Entah dari sudut mana
aku akan memulai menulis sebuah karya
merangkai kata demi kata
menjadi bait-bait yang indah
hingga mengandung sebuah makna
karena terkadang ilhamku hadir tanpa henti
namun, terkadang ilhamku binasa tanpa sisa

aku bagaikan sebuah pena
mengukir kisah menciptakan sebuah karya yang bermakna
aku bagaikan lembaran-lembaran kertas putih
yang menunggu sang pena mengukir setiap lembaran
merekayasa karya dengan kata

penaku tak akan lapuk dimakan usia
karena telah dicipta begitu hebatnya
ciptaan sang maha kuasa lagi bijaksana
penaku hanyalah sebuah perantara
untukku menciptakan cahaya dalam gelapnya dunia

aku hanyalah segumpal darah, daging, tulang dan kulit
aku akan binasa pada waktunya
namun, ilmu yang telah dianugerahkan padaku
akan tetap abadi walau jasad tak lagi bernyawa
kan menjadi sebuah cahaya yang indah hingga malaikat mengepakkan sayapnya.

Senin, 07 September 2015

Just For you (yang Merasa)



“FOR YOU STYA”
Ketika kelebihan berbuah kesombongan dan keegoisan,
Semua hal yang salahpun menjadi benar.
Ketika kedewasaan menjadi sebuah ukuran kepribadian kau jadikan dirimu dewasa tanpa pilihan
Dewasa dengan ego,
Kau memilih tapi kau tuli,
Kau sanggah semua masukan
Enggan kau tampung sebelum kau buang
Inikah yang kau namakan kedewasaan?
Kaubuta dengan sebuah tahta hingga kau relakan sebuah hati menjadi korban
Menyakiti tanpa disadari
Mencela tanpa cela
Membanggakan diri layaknya seorang raja diatas tahta
Hufft...
Cara pandang yang liberal menjadikan kawan sebagai lawan
Mencela tanpa mempedulikan perasaan.
Inginku tau sebab kaumelakukan itu
Agar tak ada lagi hati yang kan tersakiti karena sikapmu.

>>>AIKO KAYYISAH<<<

Rabu, 02 September 2015

Surat untuk Sahabatku

kawan,
 kutitipkan sebingkai rindu untuk perpisahan yang tak pernah mempertemukan kita.
kawan,
melalui surat ini aku akan bercerita tentang kehidupan
kehidupan yang kini jauh dari harapan yang pernah kita cita-citakan dulu.
kawan, tahukah kamu?
kampung halaman yang dulu mempertemukan kita.
yang dulu adalah tempat ternyaman
yang ketika kita berada disana kehidupan layaknya di surga.
kini, tempat itu menjadi layaknya neraka
aku tak mampu untuk bertahan
namun, aku tak akan mungkin meninggalkan tempat yang dahulu menjadi surga kehidupan kita.

kawan,
 tengoklah sejenak surga kita yang kini menjadi neraka
tak inginkah kau mengembalikan surga itu?
kawan,
kuberi kau sebuah pilihan
bertahan dengan luka
atau mati mempertahankan surga?