Jumat, 20 Maret 2015

cerpen



“Beban Garis Akhir”
Oleh: Aiko Kayyisah

Kudengar setiap hentakan kaki itu setiap kali mereka melangkah menuju tempat yang kadang membuatnya senang namun juga membuatnya bimbang. Aku selalu menemaninya, mendengar keluh kesahnya. Namun, beberapa hari ini aku tak lagi mendengar derap langkah mereka. Mereka tak lagi menghampiriku. Dimana mereka? 
Mereka adalah Nawa dan Bada mahasiswa tingkat akhir di sebuah Universitas. Hari demi hari telah berlalu, langkah kaki itu semakin menjauh dan menghilang. Hingga akhirnya derap langkah itu kembali terdengar, ya, suara itu tak asing bagiku. Itu suara Nawa namun, kali ini ada suara yang aneh tak pernah kudengar dari Nawa. Suara apa itu?
Tiba-tiba suara derap langkah semakin mendekatiku. Ada seseorang yang datang sepertinya dia menghampiri Nawa.
“Nawa, kenapa kamu menangis?” sembari kurasakan dia duduk di samping Nawa. Oh, sekarang aku baru tahu itu adalah sebuah tangisan. Apa arti sebuah tangisan? Entahlah, aku hanyalah saksi bisu yang hanya dapat mendengar tanpa mendefinisikan.
“Lee, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Laporanku ditolak.” Suara yang disebut tangis itu semakin memecah keheninganku. Keluh kesah dan nasehat-nasehat kini mengisi kehampaanku. Aku hanya dapat mendengar balas ucap dari Nawa dan Lee. Hingga akhirnya banyak suara derap langkah kaki menghampiriku, Nawa dan Lee.
***
Suara derap langkah yang masih kunantikan hingga kini. Bada yang tak tahu hingga kini tak pernah lagi kudengar senda guraunya, keluh kesahnya. Dia tak pernah lagi menghampiriku. Dimana dia? Nawa yang datang dengan keluh kesah dan mengenalkanku tentang suara tangis yang mungkin suara yang menjadi simbol dikalangan manusia yakni simbol sebuah kesedihan
Aku sendiri disini, tanpa suara derap langkah kaki, suara keluh kesah, senda gurau, nasehat-nasehat. Aku merindukan semua suara itu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Suara derap langkah siapa gerangan suara itu semakin mendekat. Itu Bada? Kenapa langkah Bada semakin melemah, apakah beribu masalah menyelimutinya seperti halnya Nawa? Entahlah.
“Bada, kok baru kelihatan sih? Kemana aja?” Tiba-tiba suara itu terdengar menyapa Bada.
“lagi sibuk nih,” balas Bada singkat. Bada berusaha mengalihkan pertanyaan temannya itu dengan sebuah candaan tapi aku dapat menangkap nada bicara Bada yang menyimpan banyak beban masalah.
***
Jika aku dapat berteriak akan kukatakan “semangat! Buat kalian” Namun, itu tak mungkin. Aku sendiri tak bisa  dan tak tahu Apa sih sebenarnya tugas akhir itu? Ada apa dengan mahasiswa tingkat akhir? Apa hubungan mahasiswa tingkat akhir dan tugas akhir? Aku hanya tahu bahwa yang akhir itu adalah sebuah Finish tapi mengapa mereka dilema dengan sebuah garis akhir penyelesaian itu? Entahlah.
Hingga saat ini, aku hanya dapat menyimpulkan sebuah tugas akhir membuat mereka berubah, apakah tugas akhir sebuah beban berat? Entahlah aku tak bisa merasakannya. Aku hanyalah sebuah ruang yang menjadi saksi bisu keluh kesah dan kegalauan serta arti sebuah tangisan seorang mahasiswa tingkat akhir.

SEKIAN….

4 komentar:

  1. olive... ?!
    kakak mau curhat.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. curhat tentang apa,kak?
      iya, silahkan saya sangat senang akan mendengarkannya kalau sya bisa memberi solusi I. Allah saya bantu mengatasi:)

      Hapus
    2. Another winter day has come
      And gone away

      Hapus
    3. though the season has gone and changed, but the memories will last forever all time.:)

      Hapus