Cerita cinta di
kota Daeng
Oleh: Aiko
Kayyisyah
Makassar, aku
tiba di kota daeng. Panas. Itulah kesan pertama aku berada disini. Tak
seorangpun kukenal. Asing ya memang sangat asing.
Terik matahari
memayungi langkahku yang sedang berjalan di trotoar. Tiba-tiba sebuah kendaraan
roda dua menghampiriku. Langkahku pun terhenti. Seorang wanita menyapaku.
“permisi, kak.”
“em, iya. Ada
apa?”
“saya ingin
bertanya. Dimana ya fakultas MIPA disini?”
“oh, maaf saya
mahasiswa baru disini.”
“oh, maaf.”
Sembari tersipu malu dia berlalu meninggalkanku.
***
Selamat pagi,
Makassar?
Tak ada udara
segar disini yang ada hanya polusi. Huh… dengusku sembari menatap keramaian di
atas lantai tiga.
“Natan.” Sembari
menepuk pundakku. Terkejut bukan kepalang hingga membuyarkan semua lamunanku.
“Andi? Kamu kuliah
disini juga?”
“iya, kan kita
sehati tan.” Sembari tertawa.
“Idih, malas
banget.” Jawabku sinis
“bercanda kali,
tan. Oh, iya kenalkan, ini Prili sepupuku.”
Kupandangi wanita
yang tertunduk malu itu. Sosok itu tak asing bagiku, aku pernah bertemu
dengannya tapi dimana ya? pikirku mencoba mengingat. Ah, Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
Aku dan prili pun
berkenalan. Sejak pertemuan itu, aku selalu terbayang wajah lugu penuh damai
itu. Kucoba mencari tahu semua tentang prili tanpa sepengetahuannya.
Prili, selain
berparas cantik dia juga sangat pandai. Dia keturunan bangsawan bugis. Selain
itu, dia adalah seorang akhwat. Pakaiannya yang sopan dan rapi serta hijab yang
dia kenakan membuatnya semakin sempurna.
***
Semester demi
semester berlalu, hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh para
mahasiswa yakni wisuda. Namun, sampai detik ini pun rasa itu tetap terpintal
rapi dalam hatiku. Aku mencoba menghapus segala rasa yang ada. Namun, itu
sangat sulit. Aku dan prili sangat jauh berbeda. Aku hanyalah seorang laki-laki
dari keluarga yang sederhana sedangkan prili. Hufft… berharap memiliki prili
sama dengan berharap memeluk bulan. Tak akan mungkin dan tak akan bisa.
“Natan, selamat
ya?” sebuah suara menyadarkanku. Suara yang tak asing ya, itu suara prili.
“em, iya. Kamu
juga selamat ya?”
Prili hanya
mengangguk tersenyum. Dan berlalu meninggalkanku.
Hari itu begitu
indah, bagai berada di taman ditemani pelangi. Untuk kedua kalinya Prili
menyapaku setelah pertemuan tiga tahun silam itu. Tiba-tiba prili membalikkan
badan.
“Natan, nanti
malam kamu ada acara?”
“em, tidak. ada
apa prili?”
“aku berharap kamu
bisa hadir di acara syukuran nanti malam.”
“iya, aku usahakan
datang.”
Sambil tersenyum,
dia pun melanjutkan langkahnya.
***
Matahari terbenam
di kaki cakrawala, malam pun menyapaku dalam bahagia. Kulangkahkan kaki menuju
rumah prili yang tidak jauh dari kediamanku. Dari kejauhan kulihat prili
kelihatan cemas. Nampaknya dia sedang menunggu seseorang. Berkali-kali dia
menatap ke benda yang melingkar di tangannya sesekali juga dia menatap mencoba
menembus kegelapan di hadapannya.
Aku pun memasuki
kediaman prili, dia sedikitpun tak menghiraukanku. Jangankan menyapa senyumpun
tidak. Sungguh hati ini terasa sakit. Sebenarnya siapa yang sedang prili
tunggu? Diriku semakin bertanya-tanya dalam hati.
Tidak berapa lama
kemudian, seorang wanita setengah baya datang dan menghampiri prili. Wajah
prili seketika itu juga berubah menjadi riang,
dia memeluk wanita separuh baya itu. Siapa wanita itu? Akupun tak
henti-hentinya memandangi mereka. Nampaknya mereka sedang membicarakan hal yang
serius. Ah… kenapa aku sibuk mencari tahu. Hem.
Kualihkan
pandanganku dan melangkah menghampiri kerumunan teman-temanku yang sedang asyik
menikmati hidangan yang telah disediakan. Oh, iya. Dimana Andi bukannya dia
sepupu prili, kenapa dia tak nampak disini?
***
Setahun berlalu, setelah
acara itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan prili maupun andi. Aku memutuskan
untuk kembali ke kampung. Membawa sebilah cinta yang masih melekat di hati.
Tiba-tiba handphone
berdering. Sebuah pesan singkat mendarat di layarnya. Andi, tidak biasanya dia
mengirim pesan singkat seperti ini. Betapa terkejutnya aku membaca pesan singkat
itu. Andi mengatakan bahwa Prili sedang dirawat di Rumah sakit. Selama ini
prili mengidap penyakit kanker otak. Dan dia berharap detik ini dia bisa
berjumpa denganku. Dengan hanya bermodal pas-pasan aku berangkat ke kota daeng
untuk bertemu dengan prili.
***
Dari balik pintu,
kulihat tubuh prili yang terbaring lemah. Aku tak sanggup melihat keadaannya.
Dengan perasaan sedih kumemasuki ruangan itu. Senyum lemah terlihat di bibir
prili.
“Natan, terima
kasih kamu telah bersedia menemuiku.”
“iya, prili. Kamu
cepat sembuh ya?”
Mengangguk pelan.
“natan, aku ingin
mengungkapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun aku simpan rapi dalam hati. Inilah saatnya kamu tahu semuanya.”
“apa itu prili?
Katakanlah.”
“bertahun-tahun
aku mengagumimu. Aku menyimpan perasaan ini begitu lama. Aku takut kehilanganmu, Natan. Tapi aku sadar dengan
kondisiku seperti ini aku takkan
mungkin bisa bersamamu.” Mata prili berkaca-kaca
Ruangan itu seakan
terdiam mendengar kata-kata itu, bahkan dunia seakan bungkam dengan semua ini.
apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus mengatakan sejujurnya. Akupun
memiliki perasaan yang sama.
“prili, sejujurnya
akupun memiliki perasaan yang sama sepertimu. Namun, terlalu sulit buatku mengutarakannya. Maafkan aku prili telah membiarkanmu memendam perasaan itu. Kini,
aku tak ingin membiarkanmu
pergi lagi. Kita akan menjalani semuanya. Didepan kedua orangtuamu aku ingin meminangmu, prili.”
Ruangan itu
semakin bungkam. Prili pun tak kuasa meneteskan airmata. Orangtua prili menyetujui
semuanya. Bahkan mereka menetapkan pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah
prili keluar dari rumah sakit.
***
Hari yang di
nanti-natikan kini datang juga. Prili bagaikan bidadari, aku pun terpaku
melihatnya. Acara telah berlangsung,
janji suci akan segera mengikat aku dan prili.
Setelah janji suci
itu terucap betapa terkejutnya aku prili terjatuh dalam pangkuanku.
“Natan, kini kita
telah menjadi pasangan yang utuh, terima kasih. Aku sayang kamu.”
Itulah kata
terakhir yang diucapkan prili, matanya terpejam untuk selamanya. Selamat jalan
prili meski jasadmu tak lagi bersamaku cinta ini akan abadi di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar