Selasa, 19 Agustus 2014

Cerpen



Antara cinta dan keegoisan
Oleh: Aiko Kayyisyah

Ini adalah kisah cintaku yang buta. Yang tak tau apa keinginan hatiku. Hati ini selalu merindukan sosok yang telah menyakitiku berulang kali. Awal ku mengenalnya saja dia telah menyakitiku, entah aku bodoh atau aku terlalu polos.
            Aku telah memilih pergi jauh darinya. Namun, saat aku kembali dia kembali hadir dalam hidupku. sakit hati itu masih sangat terbayang dalam benakku. Tapi kenapa? saat dia ingin kembali di hidupku aku membukakan kembali pintu hatiku. Ku sambut dia dengan kasih sayang tulusku. Padahal aku tau dia telah menjalin kisah dengan orang terdekatku yang sangat membuatku terperangah menerima semua kenyataan ini.
Aku kembali menjalin hubungan dengannya tanpa memikirkan orang lain. Aku telah yakin bahwa dia telah berubah, dia tak akan menyakitiku lagi seperti yang pernah dia lakukan kepadaku. Namun, aku salah dia tetap sama seperti yang dulu. Dia kembali menyakitiku, dia meninggalkanku hanya dengan sebuah alasan yang tak dapat ku terima.
“aku tak bisa bersamamu lagi. Aku tak lagi merasa nyaman dengan hubungan ini.” ucapnya saat sepasang mata menatap lekat padanya.
“kau tak bisa seperti ini. ini sangat tidak adil untukku. Telah            kuberikan semuanya tapi ini balasan kamu? Kau ternyata sama             dengan laki-laki di luar sana. Kau laki-laki yang tak memiliki      perasaan.” Cercaku padanya yang terdiam tanpa kata.
“Aku telah meninggalkan orang yang menyayangiku demi kau. Tapi            apa balasan yang kau berikan. Kau dengan mudahnya     meninggalkanku. Aku sungguh tak percaya dengan perlakuanmu kepadaku. Apa salahku? sehingga kau tak henti-hentinya             menghancurkan hatiku.”
“Ana, maafkan aku. Diriku tak mungkin meninggalkannya.”
“kau tak mungkin meninggalnya? Baik, aku mengerti itu, tapi jika   memang kau sayang padanya mengapa kau tega menduakannya? Dan      kenapa pula jika kau tak mencintaiku lagi, kau kembali memberiku      harapan? Kenapa?”
“maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya.” Mencoba membela diri
“cukup, pergilah aku tak ingin melihatmu lagi. Cukup sudah hatiku             kau permainkan.”
“tapi, an.”
“cukup, nik. aku tak mau mendengarkan apa-apa lagi darimu, pergi             sekarang.”
Diapun berlalu meninggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Aku pun berbalik pergi dengan deraian airmata.
***
Saat ini ku putuskan untuk membuang perasaan ini sejauh mungkin dari dalam hatiku. Namun, aku tetap tidak bisa. Semakin aku berusaha melupakannya, bayangannya semakin nyata tergambar jelas di ingatanku.
Beberapa bulan berlalu, dia kembali memohon cintaku. Dengan tegas aku menolaknya, aku tak mau tersakiti untuk ketiga kalinya. Dia pun tak berhenti memohon kepadaku. Hingga hari itu hatiku kembali luluh di buatnya. Aku pun menerimanya kembali dengan niat membalaskan dendam sakit hatiku. Namun, seiring berjalannya waktu aku semakin percaya dia telah berubah. Perasaan dendam itu pun terlupakan dari ingatanku, yang ku tahu aku menyayanginya dari awal kami bersua sampai hari ini. Perasaan itu tetap terbungkus rapi dalam hatiku.
            Hubungan kami semakin membaik, keluargaku pun senang dengannya. Dia sangat sopan, dia sangat sayang kepadaku. Keluarga kami pun semakin dekat dan saling mengenal.
Sampai tiba waktunya, hari yang tidak pernah ku inginkan akhirnya kini datang juga. Dia berpamitan kepada keluargaku untuk melanjutkan studi ke Yogyakarta kota impiannya sejak kecil.
Aku tak sanggup untuk menemuinya, namun aku tak ingin dia pergi begitu saja. Akhirnya ku seka air mataku kemudian aku menemuinya. Dia berucap kepadaku: “ana, aku sayang kamu. Setiap liburan aku akan pulang menemuimu dan keluargamu. Lima tahun ke depan aku akan menjemputmu. Kamu sanggup kan menunggu lima tahun ke depan?”
Dengan berat hati aku menganggukan kepala dan kembali tertunduk. Airmataku pun menetes. Dia pun menyeka airmataku dan kembali berucap: “aku akan tetap setia. Jarak tak akan menjadikan hubungan kita berakhir, kamu belajar yang baik ya? Tetap optimis dan tetap pertahankan prestasimu ya si pipiet kecilku. Elang akan kembali menjemputmu. Senyum dong? Pliss”. Aku pun tersenyum
Dia pun meninggalkanku yang masih dengan perasaan tak menentu. Hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Setiap hari dia selalu menelfonku. Namun, lama kelamaan semuanya berubah dia mulai jarang menghubungiku, aku pun mulai gelisah. Hingga tiba saat itu, aku bosan dengan hubungan ini. Aku pun memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun, dia bersikeras tetap mempertahankan hubungan ini. Aku tetap mengakhiri semuanya. Aku tak pernah lagi menghubunginya.
***
Seiring berjalannya waktu aku mampu melupakannya. Aku memilih sendiri tanpanya. Namun, dia tetap berusaha agar aku berubah fikiran. Namun, aku tetap mengatakan tidak. Dia terus mengharap aku berubah fikiran. Setelah aku memikirkannya aku memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status. Dia pun mengiyakan.
Hingga tiba saatnya dia memberontak keadaan sampai akhirnya dia memutuskan meninggalkanku. Aku pun pasrah dengan keputusannya.
“an, aku tak sanggup lagi dengan hubungan seperti ini, aku lebih baik          pergi.” Ucapnya dengan tegas
“nik, aku tak pernah memaksamu untuk menjalin hubungan denganku         lagi, bukan? Kau terlalu egois. Semua ini mungkin hanyalah alasan          kamu untuk meninggalkanku lagi. Ada yang lain kan selain aku?”
“an, jaga ucapanmu. Aku hanya ingin kejelasan atas hubungan kita.             Kenapa kau semakin hari tak pernah menghargaiku. Aku sadar aku   telah banyak membuatmu sakit hati. Aku kini telah berubah. Mengapa           kau masih saja meragukanku?”
“kau ingin tahu alasanku. Karena aku tak pernah ingin kau kembali dari hidupku. paham? Mulai detik ini juga jangan pernah kembali   dalam hidupku.”
***
Setelah peerdebatan hebat itu, bertahun-tahun dia tak lagi menghubungiku. Tapi, entah kenapa saat ini aku sangat merindukannya. Aku tak tau harus bagaimana kerinduan ini tak mampu jika harus selalu ku pendam. Hatiku sakit, Elang tak rindukah kau pada pipiet kecilmu yang pernah mengisi hatimu? Aku berharap kau merasakan hal yang sama. Biarlah kerinduan ini bersemayam dalam jiwaku dan terpendam dalam hati ini. Hingga nanti ku temukan jawaban atas kerinduan ini. maafkan aku dengan segala keegoisanku hingga membuatmu pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar